
Apa Itu Struma atau Gondok?
Struma, yang lebih dikenal masyarakat sebagai gondok, adalah pembesaran kelenjar tiroid yang terletak di depan leher, tepat di bawah jakun. Kelenjar tiroid berperan penting dalam mengatur metabolisme tubuh, suhu badan, dan tingkat energi. Ketika kelenjar ini membesar, dapat terlihat jelas sebagai benjolan di leher yang tidak hanya memengaruhi penampilan, tetapi juga dapat mengganggu fungsi pernapasan dan menelan.
Tanda dan Gejala
Banyak orang dengan struma tidak merasakan gejala apa pun, terutama jika pembesaran masih ringan. Namun, seiring waktu atau jika kelenjar terus membesar, beberapa gejala dapat muncul:
- Benjolan yang terlihat di leher bagian depan, di bawah jakun
- Kesulitan menelan (terasa tersangkut atau nyeri)
- Kesulitan bernapas atau sesak napas, terutama saat berbaring atau beraktivitas
- Suara serak atau perubahan nada suara
- Nyeri atau ketidaknyamanan di area tiroid
- Kepala terasa berat atau pusing
Penyebab dan Faktor Risiko
Penyebab struma bervariasi. Di Indonesia, khususnya di daerah-daerah dengan iklim tropis, kelembaban tinggi, dan paparan polusi yang mencukupi, beberapa faktor berperan penting:
- Kekurangan yodium: Yodium diperlukan untuk produksi hormon tiroid; kekurangannya membuat kelenjar bekerja lebih keras dan membesar
- Penyakit tiroid autoimun: Seperti tiroiditis Hashimoto, di mana sistem imun keliru menyerang kelenjar tiroid sendiri
- Hipertiroidisme atau hipotiroidisme: Ketidakseimbangan hormon tiroid
- Kehamilan: Perubahan hormon selama kehamilan dapat memicu pembesaran tiroid
- Riwayat keluarga: Penyakit tiroid sering berjalan dalam keluarga
- Usia dan jenis kelamin: Lebih sering terjadi pada perempuan dan bertambah seiring usia
- Paparan radiasi: Riwayat radiasi kepala atau leher meningkatkan risiko
Cara Diagnosis
Dokter spesialis THT atau endokrin akan melakukan beberapa pemeriksaan untuk memastikan diagnosis:
- Pemeriksaan fisik: Dokter meraba leher Anda untuk menilai ukuran dan tekstur kelenjar tiroid
- Ultrasonografi (USG) leher: Imaging yang aman untuk melihat struktur dan ukuran tiroid serta adanya nodul atau area abnormal
- Tes fungsi tiroid: Pemeriksaan darah mengukur kadar TSH, T3, dan T4 untuk menilai kerja tiroid
- Tes antibodi tiroid: Jika dicurigai penyakit autoimun
- Pungsi jarum halus (biopsi): Dalam kasus tertentu untuk mengevaluasi nodul mencurigakan
Penanganan
Pilihan penanganan bergantung pada penyebab struma, ukurannya, dan gejala yang Anda rasakan:
- Observasi: Jika struma berukuran kecil tanpa gejala dan fungsi tiroid normal, dokter hanya memantau dengan pemeriksaan berkala dan USG ulang
- Suplemen yodium: Jika kekurangan yodium terbukti, asupan dapat ditingkatkan melalui garam beryodium atau suplemen
- Obat-obatan: Untuk menormalkan fungsi tiroid sesuai hasil tes, atau menekan produksi hormon tiroid jika berlebih
- Operasi (tiroidektomi): Dipertimbangkan jika struma besar menekan saluran napas atau kerongkongan, atau jika ada tanda-tanda keganasan
Komplikasi dan Prognosis
Mayoritas struma memiliki prognosis baik dengan penanganan tepat. Namun, jika dibiarkan tanpa penanganan, pembesaran progresif dapat menyebabkan obstruksi jalan napas serius, gangguan menelan kronis, atau kompresi pembuluh darah di leher. Hasil akhir setiap pasien berbeda-beda tergantung penyebab mendasar dan seberapa dini diagnosis ditegakkan.
Kapan Harus ke Dokter
Segera berkonsultasi dengan dokter spesialis THT jika Anda mengalami benjolan di leher yang terus membesar, kesulitan bernapas atau menelan yang memburuk, suara serak menetap, nyeri leher yang berkelanjutan, atau gejala-gejala lain yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Pemeriksaan dini membantu mencegah komplikasi yang lebih serius.
FAQ
Apakah struma bisa hilang dengan sendirinya?
Tergantung penyebabnya. Struma karena kekurangan yodium dapat mengecil jika asupan yodium diperbaiki. Namun, jika disebabkan penyakit autoimun atau faktor lain, memerlukan penanganan medis dan pemantauan rutin.
Apakah semua struma harus dioperasi?
Tidak. Operasi hanya dipertimbangkan jika struma menekan saluran napas atau kerongkongan secara signifikan, atau jika dicurigai keganasan. Banyak pasien berhasil dikelola dengan observasi atau terapi obat saja.
Bagaimana cara mencegah struma?
Pastikan asupan yodium cukup dengan mengonsumsi garam beryodium, ikan laut, telur, dan produk susu. Di daerah dengan risiko tinggi defisiensi yodium, program suplementasi nasional dan konsumsi garam beryodium adalah kunci pencegahan.
Bisakah struma kembali setelah operasi?
Risiko rekurensi atau terbentuknya nodul baru sangat rendah jika operasi dilakukan lengkap. Namun, pemeriksaan berkala tetap penting untuk memantau kesehatan tiroid pasca-operasi dan memastikan tidak ada komplikasi.
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan atau konsultasi medis langsung. Hasil dan penanganan tiap pasien berbeda.
Konsultasi Spesialis THT di Semarang
Punya keluhan serupa? dr. Yanuar Iman Santosa, Sp.THT-KL, Subsp. AI(K) berpraktik di RS Columbia Asia Semarang. Buat janji online via WhatsApp.
Lihat Juga
- Tumor Jinak Laring: Papiloma, Granuloma & Nodul
- Tonsillitis: Ketika Amandel Si 'Penjaga Gerbang' Justru Diserang
- Spesialis THT Semarang
- Konsultasi Dokter THT Semarang
- Jadwal Dokter THT Semarang
- Biaya Konsultasi THT Semarang
- → Carotid Body Tumor: Pembengkakan Jinak di Leher yang Perlu Diwaspadai
- → Estesioneuroblastoma: Tumor Langka Hidung dan Sinus
- → Kista Brankial: Benjolan di Leher sejak Lahir — Apa yang Harus Anda Ketahui
- → Karsinoma Sel Basal Kulit Wajah: Kanker Kulit Paling Sering
- → Konsultasi Dokter THT Semarang
- → Jadwal Praktik dr. Yanuar