Kondisi Saya Keluhan THT Cek Gejala Praktik Spesialis Tentang Artikel Booking Sekarang
Link disalin!
dr. Yanuar
Ditulis & Ditinjau oleh
dr. Yanuar Iman Santosa, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.A.I.(K), M.Si.Med
Spesialis THT & Subspesialis Alergi-Imunologi · RS Columbia Asia Semarang · Diperbarui: 01 October 2026

Angiofibroma nasofaring belia adalah tumor jinak (non-kanker) yang tumbuh di nasofaring, yaitu area di belakang hidung dan di atas langit-langit mulut. Tumor ini muncul pada anak laki-laki, terutama saat memasuki usia pubertas (sekitar 10 hingga 25 tahun). Istilah “angio” merujuk pada pembuluh darah, sementara “fibroma” berarti tumor yang berasal dari jaringan ikat, sehingga tumor ini kaya akan pembuluh darah dan mudah berdarah.

Meski bersifat jinak, angiofibroma nasofaring belia memerlukan perhatian khusus karena dapat mengganggu pernapasan, menyebabkan mimisan yang mengganggu, dan berdampak pada aktivitas sehari-hari. Kabar baiknya adalah tumor ini responsif terhadap pengobatan dan sangat jarang berubah menjadi kanker.

Tanda dan Gejala

Gejala angiofibroma nasofaring belia berkembang secara bertahap dan sering kali dikelirukan dengan masalah hidung biasa seperti alergi atau sinusitis. Tanda-tanda yang dapat dialami pasien mencakup:

  • Mimisan berulang, terutama tanpa sebab yang jelas atau setelah trauma ringan
  • Hidung tersumbat yang tidak hilang meskipun sudah menggunakan obat
  • Suara sengau atau “ngaceng” ketika berbicara
  • Gangguan atau hilangnya indera penciuman
  • Rasa penuh, nyeri, atau ketidaknyamanan di telinga
  • Pada kasus yang lebih lanjut: kesulitan bernapas melalui hidung, pola tidur yang terganggu, atau dengkuran berat

Gejala-gejala ini umumnya dimulai ringan dan lambat laun memburuk. Banyak keluarga baru membawa anak ke dokter spesialis THT setelah mengalami mimisan berulang yang mengganggu aktivitas sekolah atau kehidupan sosial anak.

Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab pasti angiofibroma nasofaring belia masih belum sepenuhnya dipahami, namun beberapa hal telah diketahui:

  • Tumor ini hampir selalu mengenai anak laki-laki (rasio laki-perempuan mencapai 10-30:1), yang menunjukkan ada pengaruh hormon, terutama testosteron yang meningkat saat pubertas
  • Tumor terjadi akibat pertumbuhan abnormal dari sel-sel di dalam nasofaring; penyebab pasti dari kelainan pertumbuhan ini masih tidak diketahui
  • Tidak ada hubungan dengan kebiasaan hidup, pola makan, paparan lingkungan tertentu, atau polusi
  • Kondisi ini tidak menular dan bukan hasil dari infeksi bakteri atau virus

Karena munculnya tumor terkait erat dengan pubertas, beberapa angiofibroma dapat berhenti tumbuh atau bahkan menyusut setelah pasien memasuki usia dewasa, meskipun tidak semua kasus demikian.

Cara Diagnosis

Diagnosis dimulai dengan wawancara mengenai gejala yang dialami. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan:

Pemeriksaan Endoskopi Nasofaring

Dokter memasukkan kamera tipis dan luwes melalui lubang hidung untuk melihat langsung tumor dan ciri-cirinya, seperti warna kemerahan, permukaan yang berlobang atau tidak rata, dan letak tumor di nasofaring.

CT atau MRI

Pemeriksaan pencitraan ini sangat penting untuk menilai ukuran tumor, batas-batasnya yang tepat, dan ada tidaknya perluasan ke struktur tulang atau area penting lainnya di sekitarnya (basis tengkorak, sinus, rongga mata).

Biopsi

Pengambilan sampel jaringan kecil biasanya tidak diperlukan karena gambaran endoskopi dan pencitraan sudah cukup untuk menegakkan diagnosis dengan yakin.

Penanganan

Pilihan penanganan ditentukan berdasarkan ukuran tumor, beratnya gejala, dan dampaknya terhadap aktivitas pasien:

  • Observasi: Jika tumor berukuran kecil dan gejala minimal, dokter dapat merekomendasikan pemantauan berkala dengan foto ulang setiap beberapa bulan, karena beberapa tumor tumbuh dengan sangat lambat.
  • Operasi endoskopi: Metode pilihan saat ini adalah pengangkatan tumor melalui lubang hidung dengan bantuan endoskop dan instrumen bedah khusus. Keuntungan metode ini adalah trauma jaringan lebih kecil, waktu pemulihan lebih singkat, dan hasil kosmetik lebih memuaskan.
  • Embolisasi preoperatif: Sebelum operasi, dokter radiologi intervensi dapat menyuntikkan bahan khusus ke dalam pembuluh darah yang menyuplai tumor untuk mengurangi aliran darah dan pendarahan saat operasi berlangsung. Ini sangat membantu terutama pada tumor berukuran besar.
  • Radioterapi: Jarang digunakan dalam kasus modern, terutama disediakan untuk kasus-kasus yang tidak dapat dioperasi atau tumor yang berulang setelah operasi.

Komplikasi dan Prognosis

Komplikasi yang mungkin terjadi jika tumor tidak ditangani mencakup mimisan yang sangat deras dan sulit dihentikan, obstruksi penuh saluran napas, serta pengaruh pada saluran Eustachius yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Tumor yang terus membesar dapat mengganggu kualitas hidup pasien secara signifikan.

Prognosis umumnya sangat baik. Setelah penanganan, terutama operasi, sebagian besar pasien mengalami penyembuhan gejala yang dramatis. Namun, ada kemungkinan rekurensi (kembalinya tumor) pada 10-30% kasus dalam beberapa tahun ke depan, tergantung pada kelengkapan pengangkatan tumor. Oleh karena itu, pemantauan berkala dan endoskopi ulang sesuai jadwal yang direkomendasikan dokter sangat penting.

Kapan Harus ke Dokter

Segera periksa ke dokter spesialis THT jika anak Anda mengalami:

  • Mimisan berulang tanpa penyebab yang jelas
  • Hidung tersumbat berkepanjangan yang tidak membaik
  • Kombinasi mimisan dan suara sengau yang baru muncul

Jika terjadi mimisan yang sangat deras dan tidak dapat dihentikan dalam 30 menit meskipun sudah ditekan, segera bawa pasien ke instalasi gawat darurat untuk mendapatkan penanganan mendesak.

FAQ

Apakah angiofibroma nasofaring belia akan berubah menjadi kanker?
Tidak. Tumor ini bersifat jinak (benign) dan tidak akan berubah menjadi kanker. Namun, karena kaya pembuluh darah dan dapat tumbuh membesar, perlu ditangani agar tidak mengganggu pernapasan, pendengaran, dan kualitas hidup pasien.

Bisakah tumor ini hilang dengan sendirinya tanpa operasi?
Pada beberapa kasus, terutama setelah pasien memasuki usia dewasa (akhir dua puluhan atau tiga puluhan), tumor dapat berhenti tumbuh atau bahkan menyusut. Namun, jika gejala sudah mengganggu aktivitas sehari-hari atau terdapat komplikasi seperti mimisan berulang, operasi tetap menjadi pilihan terbaik. Dokter akan membantu menentukan waktu terbaik untuk operasi berdasarkan kondisi individual pasien.

Bagaimana prognosis jangka panjang setelah operasi?
Prognosis sangat baik setelah operasi. Sebagian besar pasien mengalami hilangnya gejala atau berkurangnya gejala secara signifikan. Namun, ada kemungkinan tumor kembali pada beberapa persen pasien, itulah mengapa pemeriksaan berkala dan endoskopi ulang sesuai jadwal dokter sangat penting untuk deteksi dini jika ada tanda pertumbuhan kembali.

Berapa lama pemulihan setelah operasi endoskopi dan kapan anak bisa kembali ke sekolah?
Pemulihan awal biasanya berlangsung 2-4 minggu. Pasien dapat kembali ke aktivitas ringan seperti belajar dalam beberapa hari, meski perlu menghindari aktivitas fisik berat, olahraga, dan bermain di lapangan yang berdebu selama 2-3 minggu sesuai saran dokter. Jadwal pengembalian ke sekolah penuh harus dikonsultasikan dengan dokter yang merawat.

Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan atau konsultasi medis langsung. Hasil dan penanganan tiap pasien berbeda.

Konsultasi Spesialis THT di Semarang

Punya keluhan serupa? dr. Yanuar Iman Santosa, Sp.THT-KL, Subsp. AI(K) berpraktik di RS Columbia Asia Semarang. Buat janji online via WhatsApp.

Buat Janji via WhatsApp

Lihat Juga

dr. Yanuar Iman Santosa, Sp.T.H.T.B.K.L.

Ditulis & ditinjau oleh dr. Yanuar Iman Santosa, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.A.I. (K), M.Si.Med.

Dokter Spesialis THT (Telinga Hidung Tenggorok) & Konsultan Alergi-Imunologi · Semarang

Praktik di RS Columbia Asia Semarang dan RS Nasional Diponegoro, menangani keluhan THT umum hingga kasus alergi kompleks yang memerlukan penanganan subspesialis Konsultan Alergi-Imunologi.

Lihat profil lengkap & jadwal praktik dokter THT Semarang →