
Hampir semua orang pernah mengalami mimisan, baik sendiri maupun menyaksikan orang lain. Namun ironisnya, pertolongan pertama yang diberikan justru sering keliru — kepala ditengadahkan ke belakang, atau kapas dimasukkan berlapis-lapis ke dalam hidung. Artikel ini meluruskan cara penanganan yang tepat berdasarkan prinsip medis, dan membantu Anda mengenali kapan mimisan bukan sekadar “masalah biasa” yang perlu segera dievaluasi dokter THT.
Dua Jenis Mimisan: Anterior dan Posterior
Secara anatomi, sumber perdarahan hidung dibagi menjadi dua kelompok besar:
Mimisan Anterior (90% kasus)
Bersumber dari pleksus Kiesselbach — area di septum bagian depan hidung tempat beberapa pembuluh darah kecil bertemu. Ini adalah jenis mimisan yang paling umum, terutama pada anak-anak dan dewasa muda. Biasanya dapat berhenti sendiri dalam 10–15 menit dengan penanganan yang tepat.
Mimisan Posterior (10% kasus)
Bersumber dari arteri sfenopalatina di bagian belakang rongga hidung. Perdarahan cenderung lebih banyak, lebih sulit dikontrol, dan sering mengalir ke tenggorokan sehingga tidak terlihat keluar dari lubang hidung. Lebih sering terjadi pada orang dewasa yang lebih tua, terutama dengan riwayat hipertensi.
Pertolongan Pertama yang Benar (Langkah demi Langkah)
Teknik yang tepat membuat perbedaan besar. Ikuti langkah-langkah berikut:
- Duduk tegak, condong sedikit ke depan — Jangan tengadah. Posisi tengadah menyebabkan darah mengalir ke belakang tenggorokan, bisa tertelan (menyebabkan mual/muntah) atau masuk ke saluran napas.
- Cubit bagian lunak hidung (bukan tulang hidung) selama 10–15 menit penuh tanpa melepas untuk memeriksa. Lepas setelah timer selesai, bukan setiap 2–3 menit.
- Bernapas lewat mulut selama mencubit hidung.
- Kompres dingin di batang hidung atau dahi — membantu vasokonstriksi pembuluh darah.
- Jika setelah 15 menit belum berhenti, ulangi sekali lagi dengan teknik yang sama selama 10–15 menit.
Yang Harus DIHINDARI
- Menengadahkan kepala — berbahaya, darah masuk ke tenggorokan dan lambung
- Meniup hidung dengan kuat — membuang bekuan darah yang sedang terbentuk
- Memasukkan kapas berlapis-lapis tanpa pengawasan medis — bisa melukai mukosa dan sulit dikeluarkan
- Memasukkan tisu kering — tisu melekat pada mukosa dan menyebabkan perdarahan ulang saat dilepas
Perbandingan: Mimisan Anterior vs Posterior
| Aspek | Anterior | Posterior |
|---|---|---|
| Frekuensi | 90% kasus | 10% kasus |
| Sumber perdarahan | Pleksus Kiesselbach (septum depan) | A. sfenopalatina (hidung belakang) |
| Volume darah | Biasanya ringan–sedang | Bisa banyak, mengalir ke tenggorokan |
| Bisa berhenti sendiri | Ya, dalam 10–15 menit | Sulit, sering butuh tamponade |
| Usia tersering | Anak & dewasa muda | Dewasa tua, hipertensi |
| Penanganan | Kompresi hidung, kadang kauterisasi | Tamponade posterior, evaluasi spesialis |
Penyebab Mimisan yang Sering Terlewat
Mimisan jarang terjadi tanpa sebab. Beberapa penyebab yang paling sering ditemukan dalam praktik klinis:
- Udara kering / paparan AC berlebih — mukosa hidung menjadi kering dan mudah berdarah
- Mengorek hidung (digital trauma) — trauma kecil berulang pada pleksus Kiesselbach
- Rinitis alergi — peradangan kronis mukosa meningkatkan vaskularisasi dan fragilitas pembuluh darah
- Septum deviasi — aliran udara tidak merata menyebabkan satu sisi hidung lebih kering dan rentan
- Hipertensi — tidak secara langsung menyebabkan mimisan, namun mempersulit hemostasis dan memperberat perdarahan
- Obat-obatan — aspirin, NSAID, warfarin, clopidogrel, dan suplemen seperti ginkgo biloba atau omega-3 dosis tinggi dapat mengganggu pembekuan darah
- Infeksi saluran napas atas — virus dan bakteri menyebabkan peradangan dan edema mukosa
Tanda Bahaya: Mimisan yang Harus Segera Dievaluasi
Segera ke dokter atau IGD jika:
- Mimisan tidak berhenti setelah 20–30 menit penanganan mandiri yang benar
- Volume darah sangat banyak atau darah terus mengalir ke tenggorokan
- Mimisan terjadi setelah trauma kepala atau wajah
- Mimisan berulang: lebih dari 2 kali seminggu atau lebih dari sekali dalam sehari
- Mimisan disertai memar mudah, gusi berdarah, atau perdarahan di tempat lain — curiga gangguan pembekuan darah
- Mimisan hanya satu sisi disertai obstruksi hidung dan nyeri wajah — perlu singkirkan kemungkinan massa atau tumor
- Pasien dengan kondisi gangguan pembekuan darah atau sedang mengonsumsi obat antikoagulan
- Anak di bawah 2 tahun
Apa yang Dilakukan Dokter THT?
Saat Anda datang ke klinik atau rumah sakit dengan mimisan yang tidak kunjung berhenti, dokter THT akan melakukan serangkaian evaluasi:
- Rinoskopi anterior — pemeriksaan langsung ke dalam rongga hidung untuk mengidentifikasi sumber perdarahan
- Kauterisasi kimia menggunakan perak nitrat (AgNO3) atau kauterisasi elektrik untuk menutup titik perdarahan aktif
- Tamponade anterior atau posterior jika perdarahan tidak bisa dikontrol dengan kauterisasi
- Pemeriksaan laboratorium (darah lengkap, fungsi pembekuan) jika dicurigai ada gangguan sistemik
- Evaluasi tekanan darah dan riwayat obat-obatan
Mencegah Mimisan Berulang
Setelah mimisan teratasi, langkah pencegahan penting untuk mengurangi risiko kambuh:
- Gunakan pelembap udara (humidifier) di kamar tidur, terutama saat musim kemarau atau ruangan ber-AC
- Aplikasikan saline nasal spray secara rutin untuk menjaga kelembapan mukosa hidung
- Kontrol rinitis alergi dengan baik — diskusikan dengan dokter tentang terapi yang tepat
- Hindari mengorek hidung, terutama pada anak-anak
- Review obat-obatan yang Anda konsumsi — jangan menghentikan antikoagulan tanpa konsultasi dokter
- Kontrol tekanan darah secara rutin jika Anda memiliki riwayat hipertensi
Konsultasi Lebih Lanjut
Jika Anda atau anggota keluarga mengalami mimisan berulang atau sulit berhenti, evaluasi langsung oleh dokter THT penting untuk menemukan penyebab yang mendasari. Jangan tunda — semakin cepat penyebabnya diketahui, semakin mudah ditangani.
Baca Juga
- Septum Deviasi: Ketika Tulang Hidung Tidak Lurus
- Rinitis Alergi — Pilek Alergi
- Kapan Harus ke Dokter THT?
- Dokter THT Semarang