Kondisi Saya Keluhan THT Cek Gejala Praktik Spesialis Tentang Artikel Booking Sekarang
Link disalin!
dr. Yanuar
Ditulis & Ditinjau oleh
dr. Yanuar Iman Santosa, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.A.I.(K), M.Si.Med
Spesialis THT & Subspesialis Alergi-Imunologi · RS Columbia Asia Semarang · Diperbarui: 01 October 2026

Apa Itu Radioterapi?

Saat dokter menyebutkan istilah radioterapi, mungkin ada kekhawatiran atau kebingungan tentang apa yang akan terjadi. Artikel ini akan menjelaskan cara kerja radioterapi, apa yang akan dialami, dan apa saja mitos yang perlu ditolak.

Radioterapi adalah pengobatan yang menggunakan sinar energi tinggi (radiasi) untuk merusak sel kanker. Sinar ini difokuskan langsung ke daerah yang sakit, sehingga sel kanker rusak dan mati. Berbeda dengan operasi yang mengangkat tumor secara fisik, radioterapi bekerja dari dalam untuk menghancurkan sel kanker. Pada kanker kepala dan leher seperti kanker nasofaring atau kanker laring, radioterapi sering menjadi bagian penting dari rencana pengobatan. Kadang dilakukan sendiri, atau dikombinasikan dengan operasi, kemoterapi, atau keduanya, tergantung jenis kanker dan stadiumnya.

Tahapan Radioterapi

Tahap Perencanaan (Simulasi)

Sebelum sinar pertama diberikan, dokter perlu membuat rencana yang sangat presisi. Pasien akan menjalani CT scan atau MRI untuk memetakan tumor dan organ sehat di sekitarnya. Komputer akan membantu dokter menghitung berapa banyak sinar yang dibutuhkan dan dari arah mana sinar harus masuk. Sesi perencanaan ini biasanya dilakukan sekali dan memakan waktu 30–60 menit. Selama ini, dokter juga akan menandai kulit pasien dengan tanda kecil (mungkin dengan tinta atau tattoo permanen kecil) agar posisi pasien selalu sama di setiap sesi.

Tahap Pemberian Sinar

Setelah rencana siap, pasien akan datang berkali-kali (biasanya 5–6 hari per minggu) selama beberapa minggu untuk menerima sinar. Setiap sesi hanya memakan waktu 10–30 menit. Pasien berbaring di mesin radioterapi yang disebut linear accelerator. Mesin ini akan memancarkan sinar ke daerah yang ditargetkan sambil dokter dan staf memantau dari ruangan yang aman. Pasien tidak merasakan sakit saat sinar diberikan, tetapi harus tetap diam agar sinar tepat sasaran.

Apa yang Biasa Dialami Pasien

Efek Samping Umum

Radioterapi merusak sel kanker, tetapi dapat juga mempengaruhi sel sehat di sekitarnya. Efek samping bergantung pada dosis dan lokasi terapi. Berikut yang sering dialami:

  • Kemerahan dan iritasi kulit — Kulit di area terapi bisa merah, gatal, atau terasa terbakar, mirip sunburn. Ini biasanya terjadi setelah beberapa minggu pengobatan dan membaik setelah terapi selesai.
  • Kering mulut — Kelenjar ludah bisa rusak, sehingga produksi air liur berkurang. Mulut terasa kering dan menelan bisa sulit.
  • Sakit menelan — Tenggorokan dan kerongkongan bisa meradang, menyebabkan sakit saat menelan makanan atau minuman.
  • Mual dan perubahan selera makan — Beberapa pasien merasa kurang nafsu makan selama pengobatan.
  • Kelelahan — Tubuh membutuhkan energi untuk memperbaiki sel, sehingga pasien merasa lebih lelah dari biasanya.
  • Perubahan suara — Jika laring terkena radiasi, suara bisa berubah (serak atau parau).

Sebagian besar efek samping bersifat sementara dan akan berkurang setelah pengobatan selesai. Namun, sebagian bisa bertahan lebih lama. Dokter dan perawat akan memberikan saran cara mengurangi efek samping, seperti perawatan kulit khusus, obat kumur, atau perubahan pola makan. Penting untuk selalu memberitahu tim medis jika efek samping terasa berat.

Mitos Versus Fakta

Mitos: Radioterapi Itu Sangat Penyakitan

Fakta: Prosedur pemberian sinar tidak terasa sakit. Pasien tidak merasakan apa pun saat sinar diberikan. Ketidaknyamanan datang dari efek samping (iritasi kulit, sakit menelan) yang dapat dikelola dengan bantuan medis.

Mitos: Radioterapi Membuat Orang Jadi Radioaktif

Fakta: Sinar radioterapi eksternal tidak membuat tubuh pasien menjadi radioaktif. Setelah sesi selesai, pasien aman untuk berada di dekat orang lain, termasuk anak-anak dan ibu hamil. Tidak perlu isolasi atau precaution khusus terhadap keluarga.

Mitos: Radioterapi Selalu Menyembuhkan Kanker

Fakta: Hasil radioterapi bervariasi tergantung tahap kanker, lokasi tumor, dan kondisi kesehatan pasien. Dokter akan menjelaskan peluang kesuksesan berdasarkan kasus individual. Selalu ada kemungkinan kanker kambuh atau berkembang, sehingga pemeriksaan rutin setelah pengobatan sangat penting.

FAQ

Berapa lama durasi seluruh pengobatan radioterapi?
Biasanya 5–8 minggu, tergantung jenis kanker dan dosis yang diresepkan. Pasien datang berkali-kali per minggu, tetapi setiap sesi hanya 10–30 menit. Dokter akan menjelaskan jadwal spesifik berdasarkan kondisi Anda.

Bisakah pasien makan dan minum normal selama radioterapi?
Tergantung pada lokasi tumor dan efek samping yang dialami. Jika ada sakit menelan atau kering mulut, makanan lembut atau cair lebih mudah dikonsumsi. Penting tetap terhidrasi dan terpenuhi nutrisi. Konsultasikan dengan dokter gizi atau tim medis Anda untuk saran diet khusus.

Apakah radioterapi bisa dilakukan bersamaan dengan kemoterapi?
Ya, dokter sering menggabungkan radioterapi dengan kemoterapi untuk kanker tertentu karena efektivitasnya lebih baik. Namun, kombinasi ini dapat meningkatkan efek samping, sehingga monitoring ketat sangat penting.

Apa yang harus dilakukan jika efek samping sangat mengganggu?
Beri tahu dokter atau perawat Anda segera. Jangan menahan rasa sakit atau ketidaknyamanan. Ada berbagai cara untuk mengurangi efek samping, mulai dari perawatan lokal hingga pengobatan. Dokter dapat menyesuaikan rencana pengobatan jika diperlukan untuk kenyamanan dan keselamatan Anda.

Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan atau konsultasi medis langsung. Hasil dan penanganan tiap pasien berbeda.

Konsultasi Spesialis THT di Semarang

Punya keluhan serupa? dr. Yanuar Iman Santosa, Sp.THT-KL, Subsp. AI(K) berpraktik di RS Columbia Asia Semarang. Buat janji online via WhatsApp.

Buat Janji via WhatsApp

Lihat Juga

dr. Yanuar Iman Santosa, Sp.T.H.T.B.K.L.

Ditulis & ditinjau oleh dr. Yanuar Iman Santosa, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.A.I. (K), M.Si.Med.

Dokter Spesialis THT (Telinga Hidung Tenggorok) & Konsultan Alergi-Imunologi · Semarang

Praktik di RS Columbia Asia Semarang dan RS Nasional Diponegoro, menangani keluhan THT umum hingga kasus alergi kompleks yang memerlukan penanganan subspesialis Konsultan Alergi-Imunologi.

Lihat profil lengkap & jadwal praktik dokter THT Semarang →