Kondisi Saya Keluhan THT Cek Gejala Praktik Spesialis Tentang Artikel Booking Sekarang
Link disalin!
dr. Yanuar
Ditulis & Ditinjau oleh
dr. Yanuar Iman Santosa, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.A.I.(K), M.Si.Med
Spesialis THT & Subspesialis Alergi-Imunologi · RS Columbia Asia Semarang · Diperbarui: 30 September 2026

Diterbitkan · Terakhir diperbarui

Apa Itu Bell’s Palsy?

Bell’s Palsy adalah kelumpuhan saraf wajah yang terjadi secara mendadak, membuat separuh wajah menjadi melemah atau tidak dapat bergerak sama sekali. Kondisi ini dinamakan menurut dokter Inggris Sir Charles Bell yang pertama kali mendeskripsikannya. Saraf wajah (yang disebut nervus fasialis) mengontrol sekitar 20 otot di sisi wajah untuk memungkinkan ekspresi, mengedipkan mata, mengunyah, dan berbicara. Ketika saraf ini mengalami gangguan atau peradangan, semua otot tersebut menjadi lumpuh atau lemah, dan kelumpuhan terjadi dengan cukup tiba-tiba.

Tanda dan Gejala

Gejala Bell’s Palsy muncul dalam hitungan jam hingga beberapa hari. Ciri paling khas adalah kelemahan atau kelumpuhan pada satu sisi wajah saja:

  • Sudut mulut mencong ke arah sisi wajah yang sehat
  • Tidak dapat menutup mata sepenuhnya di sisi yang terkena, sehingga mata terlihat membesar
  • Kesulitan mengunyah atau minum tanpa tumpahan di sudut mulut
  • Wajah terlihat asimetris; senyum menjadi tidak simetris atau miring
  • Rasa nyeri atau kaku di area belakang telinga atau rahang
  • Perasa berubah atau berkurang di separuh lidah
  • Suara terdengar aneh atau hidung tersengau saat bicara
  • Beberapa pasien mengeluh sangat sensitif terhadap suara keras di telinga sisi yang terkena

Penyebab dan Faktor Risiko

Hingga saat ini, penyebab pasti Bell’s Palsy belum sepenuhnya dipahami. Teori yang paling diterima secara luas adalah bahwa kondisi ini terjadi karena reaksi autoimun (di mana sistem imun menyerang jaringan tubuh sendiri) atau infeksi virus, terutama virus herpes simpleks. Peradangan ini menyebabkan saraf wajah membengkak dan terjepit di dalam saluran tulang yang sangat sempit di tengkorak, sehingga tidak dapat mengirimkan sinyal listrik dengan baik ke otot-otot wajah.

Beberapa faktor dapat meningkatkan kemungkinan seseorang terkena Bell’s Palsy:

  • Usia 15–60 tahun, dengan puncak di usia 40–50 tahun
  • Kehamilan atau periode setelah melahirkan
  • Memiliki diabetes atau tekanan darah tinggi
  • Stress fisik atau emosional yang berat
  • Infeksi virus tertentu sebelumnya

Cara Diagnosis

Diagnosis Bell’s Palsy terutama didasarkan pada pemeriksaan klinis dan riwayat gejala. Dokter akan menanyakan kapan gejala dimulai dan seberapa cepat berkembang, kemudian memeriksa kekuatan otot wajah dengan meminta pasien tersenyum, mengerutkan dahi, dan menutup mata dengan kuat. Dokter juga mungkin melakukan tes elektrofisiologi untuk mengukur derajat kelumpuhan saraf. Pemeriksaan pencitraan seperti CT atau MRI dapat dilakukan jika dokter mencurigai ada penyebab lain atau jika gejala tidak khas.

Penanganan

Penanganan Bell’s Palsy berfokus pada mengurangi peradangan saraf dan mencegah komplikasi, terutama komplikasi mata. Garis besar penanganan meliputi:

  • Perawatan mata: Ini adalah prioritas utama karena mata tidak dapat tertutup sempurna. Pasien harus rajin menggunakan tetes air mata buatan, gel atau salep mata di malam hari, dan menggunakan pelindung mata atau plester khusus saat tidur untuk mencegah kekerasan kornea.
  • Obat anti-inflamasi: Dokter akan meresepkan obat sesuai kondisi pasien untuk mengurangi peradangan saraf.
  • Fisioterapi atau terapi wajah: Latihan otot wajah yang terarah membantu mempertahankan tonus otot dan mempercepat pemulihan.
  • Perawatan mulut: Perhatian khusus saat mengunyah dan minum untuk menghindari tersedak atau aspirasi makanan.

Sebagian besar pasien mulai menunjukkan perbaikan dalam 3–6 bulan, meskipun beberapa memerlukan waktu lebih lama untuk pulih sepenuhnya.

Komplikasi dan Prognosis

Mayoritas pasien Bell’s Palsy, sekitar 80–85%, mengalami pemulihan penuh dalam beberapa bulan tanpa bekas sama sekali. Namun, beberapa pasien mungkin mengalami komplikasi jangka panjang seperti kontraktur otot (kekakuan permanen) atau synkinesis (gerakan otot yang tidak diinginkan muncul bersamaan). Jika mata tidak dirawat dengan baik, dapat terjadi kekerasan kornea atau gangguan penglihatan.

Prognosis (prediksi kesembuhan) umumnya lebih baik pada pasien muda, mereka yang mendapat penanganan segera setelah gejala muncul, dan mereka dengan tingkat kelumpuhan yang ringan.

Kapan Harus ke Dokter

Segera konsultasikan ke dokter jika mengalami kelemahan atau kelumpuhan wajah yang terjadi tiba-tiba, terutama jika hanya di satu sisi wajah, ketidakmampuan menutup mata sepenuhnya, atau wajah yang mencong dalam waktu singkat. Pergi ke instalasi gawat darurat (IGD) jika kelemahan wajah disertai kelemahan di lengan atau kaki, kesulitan berbicara yang berat, atau kesulitan menelan, karena gejala-gejala ini mungkin menunjukkan kondisi yang lebih serius seperti stroke.

FAQ

Apakah Bell’s Palsy bisa disembuhkan sepenuhnya?
Ya, mayoritas pasien (80–85%) dapat pulih sepenuhnya dalam beberapa bulan dengan penanganan yang tepat. Namun, lamanya pemulihan dan derajat kesembuhan bervariasi pada setiap pasien tergantung keparahan kelumpuhan awal dan seberapa cepat penanganan dimulai.

Apakah Bell’s Palsy bisa terjadi dua kali?
Rekurensi (kambuh lagi) Bell’s Palsy jarang terjadi, tetapi dimungkinkan. Kemungkinannya sekitar 5–15% pada pasien yang pernah mengalaminya sebelumnya. Jika terjadi kambuhan, segera konsultasikan ke dokter untuk memastikan diagnosis yang tepat.

Berapa lama biasanya pemulihan Bell’s Palsy?
Sebagian besar pasien mulai menunjukkan perbaikan dalam minggu pertama hingga bulan ketiga setelah gejala muncul. Pemulihan lengkap umumnya terjadi dalam 3–6 bulan, tetapi beberapa pasien memerlukan waktu lebih lama, hingga 12 bulan atau lebih.

Apakah Bell’s Palsy dapat menyebabkan ketulian?
Bell’s Palsy jarang menyebabkan ketulian total. Namun, beberapa pasien mengalami kepekaan berlebih terhadap suara (hyperacusis) atau perubahan pendengaran minor karena saraf wajah memiliki cabang yang berkaitan dengan pendengaran. Perubahan ini biasanya bersifat sementara dan membaik seiring pemulihan.

Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan atau konsultasi medis langsung. Hasil dan penanganan tiap pasien berbeda.

Konsultasi Spesialis THT di Semarang

Punya keluhan serupa? dr. Yanuar Iman Santosa, Sp.THT-KL, Subsp. AI(K) berpraktik di RS Columbia Asia Semarang. Buat janji online via WhatsApp.

Buat Janji via WhatsApp

Lihat Juga

dr. Yanuar Iman Santosa, Sp.T.H.T.B.K.L.

Ditulis & ditinjau oleh dr. Yanuar Iman Santosa, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.A.I. (K), M.Si.Med.

Dokter Spesialis THT (Telinga Hidung Tenggorok) & Konsultan Alergi-Imunologi · Semarang

Praktik di RS Columbia Asia Semarang dan RS Nasional Diponegoro, menangani keluhan THT umum hingga kasus alergi kompleks yang memerlukan penanganan subspesialis Konsultan Alergi-Imunologi.

Lihat profil lengkap & jadwal praktik dokter THT Semarang →