
Banyak pasien datang dengan keluhan “kurang dengar” dan menganggapnya sebagai hal biasa — terutama jika usianya sudah tidak muda lagi. Padahal, diagnosis yang tepat sangat menentukan pilihan penanganan. Gangguan pendengaran yang terlihat serupa dari luar bisa berasal dari masalah yang sangat berbeda: ada yang bisa dikoreksi dengan tindakan sederhana, ada yang memerlukan alat bantu dengar, dan ada yang merupakan kegawatdaruratan medis yang butuh penanganan dalam 24–48 jam.
Anatomi Singkat: Perjalanan Suara ke Otak
Memahami jenis gangguan pendengaran lebih mudah jika kita tahu jalur suara ke otak:
- Suara masuk melalui daun telinga (pinna) → liang telinga luar (MAE)
- Getaran mencapai gendang telinga (membrana timpani)
- Getaran diteruskan melalui tiga tulang pendengaran (malleus, incus, stapes) di telinga tengah
- Stapes menggetarkan koklea — organ berbentuk spiral yang mengubah getaran menjadi sinyal listrik melalui sel-sel rambut
- Sinyal listrik dikirim melalui saraf pendengaran (N. VIII / nervus vestibulocochlearis) ke otak
Dari jalur ini, kita bisa memahami: gangguan di telinga luar atau tengah disebut tuli konduktif, sedangkan gangguan di koklea atau saraf disebut tuli sensorineural.
Tuli Konduktif vs Sensorineural vs Campuran
| Aspek | Tuli Konduktif | Tuli Sensorineural | Tuli Campuran |
|---|---|---|---|
| Lokasi kerusakan | Telinga luar / tengah | Koklea / saraf pendengaran (N.VIII) | Keduanya |
| Penyebab umum | Serumen impaksi, OME, otosklerosis, perforasi gendang | Presbycusis, bising, Meniere, SSHL, ototoksik | Otosklerosis lanjut, trauma |
| Onset | Bisa mendadak atau bertahap | Umumnya bertahap (kecuali SSHL yang mendadak) | Bertahap |
| Suara diri sendiri | Tidak terlalu keras (bone conduction masih baik) | Suara sendiri terdengar keras (autophonia pada tipe tertentu) | Variatif |
| Kemungkinan koreksi | Sering dapat dikoreksi (obat / operasi) | Alat bantu dengar atau implan koklea | Tergantung derajat masing-masing komponen |
| Uji garpu tala Weber | Lateralisasi ke sisi yang sakit | Lateralisasi ke sisi yang sehat | Variatif |
| Uji garpu tala Rinne | Negatif (BC > AC) | Positif (AC > BC, namun keduanya menurun) | Variatif |
Penyebab Tersering di Masing-Masing Kategori
Tuli Konduktif
- Serumen impaksi — kotoran telinga yang mengeras dan menyumbat liang telinga; salah satu penyebab paling umum dan paling mudah ditangani
- OME (Otitis Media dengan Efusi) — cairan di telinga tengah, sering pada anak-anak
- Perforasi membrana timpani — akibat infeksi, trauma, atau paparan tekanan
- Otosklerosis — pertumbuhan tulang abnormal yang mengunci tulang stapes; sering familial, lebih sering pada wanita usia dewasa muda
- Kolesteatoma — pertumbuhan epitel abnormal di telinga tengah yang bisa merusak tulang pendengaran
Tuli Sensorineural
- Presbycusis — penurunan pendengaran akibat penuaan; terjadi bilateral, simetris, dimulai dari frekuensi tinggi (suara siulan, konsonan ‘s’, ‘f’, ‘th’)
- Noise-Induced Hearing Loss (NIHL) — akibat paparan bising keras dalam waktu lama; sering dimulai di frekuensi 4000 Hz (“notch” pada audiogram)
- Sudden Sensorineural Hearing Loss (SSHL) — tuli mendadak yang merupakan kegawatan THT (dijelaskan lebih lanjut di bawah)
- Penyakit Meniere — trias: tuli sensorineural fluktuatif + tinnitus + vertigo episodik; umumnya unilateral di awal
- Obat ototoksik — aminoglikosida (gentamisin, streptomisin), cisplatin, diuretik loop (furosemid dosis tinggi); risiko lebih tinggi dengan gangguan fungsi ginjal
- Tuli kongenital — dapat disebabkan genetik, infeksi TORCH selama kehamilan, atau komplikasi perinatal
SSHL — Tuli Mendadak adalah Kegawatdaruratan THT
Tuli Mendadak: Jangan Ditunda, Segera ke Dokter THT
Definisi klinis: Penurunan pendengaran sensorineural ≥30 dB pada minimal 3 frekuensi berturut-turut yang terjadi dalam kurun waktu kurang dari 72 jam.
Gejala khas:
- Bangun tidur pagi hari langsung merasa satu telinga tidak bisa mendengar
- Terjadi tiba-tiba saat beraktivitas — seperti “bunyi pop” lalu sunyi di satu telinga
- Sering disertai tinnitus (denging) unilateral yang mendadak
- Rasa penuh atau tersumbat di telinga
- Kadang disertai vertigo ringan hingga sedang
Mengapa ini darurat? Penanganan utama adalah kortikosteroid sistemik (prednison/deksametason) yang harus diberikan dalam 72 jam pertama sejak onset untuk hasil yang optimal. Setiap jam keterlambatan mengurangi peluang pemulihan pendengaran.
Jika Anda atau keluarga mengalami gejala di atas: segera ke dokter THT dalam 24–48 jam pertama.
Pemeriksaan Pendengaran: OAE, BERA, Audiometri, dan Timpanometri
| Pemeriksaan | Untuk Siapa | Apa yang Diukur | Kelebihan |
|---|---|---|---|
| OAE (Otoacoustic Emission) | Bayi baru lahir, anak kecil, skrining massal | Fungsi sel rambut luar koklea — mendeteksi apakah koklea bekerja normal | Cepat (beberapa menit), tidak memerlukan respons aktif dari pasien |
| BERA / ABR (Brainstem Auditory Evoked Response) | Bayi, anak yang tidak kooperatif, kasus kompleks, verifikasi threshold | Respons gelombang otak terhadap stimulus suara — menentukan threshold dan tipe tuli secara objektif | Tidak memerlukan kerja sama aktif pasien; bisa dilakukan saat tidur alami atau sedasi |
| Audiometri nada murni (PTA) | Anak >4 tahun kooperatif, remaja, dewasa | Ambang dengar per frekuensi (250–8000 Hz), air conduction dan bone conduction | Peta pendengaran lengkap, standar emas untuk diagnosis dan pemantauan |
| Timpanometri | Semua usia | Kelenturan membrana timpani dan tekanan telinga tengah — mendeteksi OME, perforasi, otosklerosis | Objektif, cepat, tidak nyeri |
Kapan OAE dan BERA Diperlukan pada Anak?
OAE adalah bagian dari program skrining pendengaran bayi baru lahir yang direkomendasikan secara nasional. Idealnya dilakukan sebelum bayi pulang dari rumah sakit (usia 24–48 jam). Hasil “refer” pada OAE tidak berarti pasti tuli — bisa disebabkan vernix di liang telinga atau cairan sisa ketuban. Namun hasil refer memerlukan tindak lanjut dengan BERA diagnostik.
BERA diagnostik direkomendasikan untuk:
- Bayi yang tidak lulus OAE dua kali
- Anak dengan faktor risiko tuli kongenital (riwayat TORCH, berat lahir rendah, hyperbilirubinemia berat, riwayat keluarga tuli)
- Anak usia >6 bulan dengan kecurigaan gangguan dengar (terlambat merespons suara, tidak menoleh ke sumber suara)
- Evaluasi pra-alat bantu dengar atau pra-implan koklea
Baca juga: Speech Delay atau Gangguan Dengar? Bagaimana Membedakannya
Mencegah Gangguan Pendengaran yang Bisa Dicegah
- Lindungi telinga dari bising — paparan >85 dB lebih dari 8 jam berisiko merusak sel rambut koklea secara permanen. Gunakan earplug di lingkungan kerja bising.
- Aturan 60/60 WHO untuk headphone — volume tidak lebih dari 60%, tidak lebih dari 60 menit berturut-turut
- Hindari memasukkan benda ke dalam telinga — cotton bud sebenarnya berisiko mendorong serumen lebih dalam atau melukai gendang telinga; telinga memiliki mekanisme self-cleaning sendiri
- Kendalikan penyakit sistemik — diabetes mellitus dan hipertensi yang tidak terkontrol dapat memengaruhi mikrovaskular koklea dan meningkatkan risiko SSHL maupun presbycusis dini
- Hati-hati dengan obat ototoksik — selalu diskusikan riwayat gangguan pendengaran dengan dokter sebelum memulai obat-obatan seperti aminoglikosida
Kapan Harus Konsultasi ke Dokter THT?
- Penurunan pendengaran mendadak di satu atau kedua telinga — segera, jangan ditunda
- Pendengaran yang berkurang perlahan dan mempengaruhi komunikasi sehari-hari
- Tinnitus (denging/berdesing) yang menetap lebih dari beberapa minggu
- Telinga terasa penuh atau tersumbat tanpa sebab jelas
- Riwayat paparan bising kerja atau militer
- Orang tua atau pasangan yang mengeluhkan Anda sering tidak mendengar atau menaikkan volume TV terlalu tinggi
Baca juga: Tinnitus: Kapan Perlu ke Dokter?
Layanan terkait:
Gangguan Pendengaran — Layanan |
Otitis Media — Layanan
Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau penanganan medis langsung oleh dokter. Jika Anda mengalami penurunan pendengaran mendadak, segera konsultasikan ke dokter THT — jangan menunggu.