Kondisi Saya Keluhan THT Cek Gejala Praktik Spesialis Tentang Artikel Booking Sekarang
Link disalin!
dr. Yanuar
Ditulis & Ditinjau oleh
dr. Yanuar Iman Santosa, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.A.I.(K), M.Si.Med
Spesialis THT & Subspesialis Alergi-Imunologi · RS Columbia Asia Semarang · Diperbarui: 29 September 2026

Bayi yang tuli sejak lahir menghadapi tantangan unik dalam tumbuh kembangnya. Gangguan pendengaran kongenital—yang terjadi sejak dalam kandungan atau saat lahir—dapat memengaruhi perkembangan bicara, bahasa, dan prestasi akademik di kemudian hari. Namun, dengan deteksi dini dan penanganan tepat, anak memiliki peluang terbaik untuk berkembang optimal.

Apa itu Tuli Kongenital?

Tuli kongenital adalah gangguan pendengaran yang dimiliki sejak lahir atau muncul dalam beberapa minggu pertama kehidupan. Istilah “kongenital” berasal dari kata Latin yang berarti “lahir bersama.” Gangguan ini dapat mengenai satu telinga (unilateral) atau kedua telinga (bilateral), dan tingkat keparahannya bervariasi dari ringan hingga total.

Gangguan pendengaran kongenital merupakan salah satu kelainan bawaan yang cukup sering ditemukan pada bayi baru lahir. Deteksi dan intervensi dini adalah kunci agar anak dapat mengembangkan kemampuan komunikasi dengan baik.

Tanda dan Gejala

Orang tua perlu waspada terhadap beberapa tanda yang menunjukkan kemungkinan gangguan pendengaran pada bayi:

  • Bayi tidak bereaksi terhadap suara keras atau suara sekitar pada usia 3–4 bulan
  • Tidak menoleh ke arah sumber suara pada usia 5–6 bulan
  • Tidak mengeluarkan celoteh atau bunyi-bunyian pada usia 6–9 bulan
  • Belum mengucapkan kata-kata sederhana pada usia 12–18 bulan
  • Perkembangan bicara lebih lambat dibanding teman sebaya
  • Lebih senang menonton daripada mendengarkan
  • Tidak merespons namanya ketika dipanggil

Perlu diingat bahwa tidak semua bayi dengan gangguan pendengaran akan menampilkan tanda-tanda yang sama. Beberapa bayi mungkin masih bereaksi terhadap bunyi sangat keras, namun tidak merespons suara percakapan normal.

Penyebab dan Faktor Risiko

Tuli kongenital dapat berasal dari berbagai faktor:

Faktor Genetik

Sekitar 50% kasus tuli kongenital bersifat herediter (turun-temurun). Gen yang bertanggung jawab pada pendengaran dapat diturunkan dari orang tua kepada anak, bahkan jika orang tua itu sendiri tidak menunjukkan gejala. Kondisi ini dapat bersifat autosomal resesif (kedua orang tua pembawa gen) atau autosomal dominan (salah satu orang tua berpengaruh).

Infeksi Prenatal

Ibu hamil yang mengalami infeksi tertentu dapat menularkan ke janin, menyebabkan kerusakan pada struktur telinga dalam. Infeksi seperti rubella, sitomegalovirus (CMV), toksoplasma, dan herpes simpleks adalah contohnya. Risiko tertinggi terjadi pada trimester pertama kehamilan ketika struktur telinga sedang berkembang.

Kelainan Struktur Telinga

Kelainan dalam perkembangan struktur telinga dalam (koklea) atau saraf pendengaran juga dapat menyebabkan tuli kongenital. Pada beberapa kasus, koklea tidak berkembang sempurna atau saraf yang membawa sinyal suara ke otak tidak terbentuk dengan baik.

Faktor Lain

Komplikasi saat persalinan, berat lahir sangat rendah, kelahiran prematur, atau penggunaan obat-obatan tertentu selama kehamilan juga dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran sejak lahir.

Cara Diagnosis

Diagnosis tuli kongenital dimulai dengan pemeriksaan bayi baru lahir yang disebut skrining pendengaran. Program ini sangat penting karena gangguan pendengaran mungkin tidak terlihat dalam observasi rutin di rumah sakit bersalin.

Tes skrining pertama dapat menggunakan metode otoacoustic emissions (OAE) atau automated auditory brainstem response (AABR). Kedua metode ini tidak invasif dan dapat dilakukan dalam beberapa menit tanpa ketidaknyamanan pada bayi.

Jika hasil skrining menunjukkan kemungkinan gangguan pendengaran, dilakukan pemeriksaan lanjutan menggunakan BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry) atau audiometri bermain untuk menentukan derajat keparahan dan jenis gangguan pendengaran. Pemeriksaan penunjang seperti CT scan atau MRI mungkin diperlukan untuk melihat struktur telinga dalam dengan detail lebih jelas.

Penanganan

Penanganan tuli kongenital bergantung pada derajat keparahan, jenis, dan penyebabnya. Tujuan utama adalah memberikan akses suara kepada anak sesegera mungkin agar perkembangan bicara dan bahasa berjalan normal.

Alat Bantu Dengar

Untuk gangguan pendengaran ringan hingga sedang, alat bantu dengar adalah pilihan utama. Alat ini menangkap suara, memperkuatnya, dan mengirimnya ke telinga sehingga anak dapat mendengar lebih baik. Jenis dan konfigurasi disesuaikan dengan hasil audiometri dan kebutuhan individual anak.

Implan Koklea

Pada gangguan pendengaran berat atau total yang tidak responsif terhadap alat bantu dengar biasa, implan koklea menjadi alternatif. Perangkat ini merupakan alat elektronik yang ditanam melalui operasi untuk secara langsung merangsang saraf pendengaran.

Intervensi Dini Lainnya

Terapi wicara dan bahasa dimulai sedini mungkin membantu anak mengembangkan kemampuan komunikasi. Pada beberapa kasus, pembelajaran bahasa isyarat juga merupakan bagian penting dari strategi komunikasi keluarga.

Komplikasi dan Prognosis

Tanpa intervensi, tuli kongenital dapat menyebabkan gangguan perkembangan bicara dan bahasa, kesulitan belajar akademis, dan tantangan sosial emosional. Anak mungkin mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan teman sebaya dan prestasi sekolah yang lebih rendah.

Dengan deteksi dini dan penanganan tepat—terutama jika dimulai sebelum usia 6 bulan—prognosis sangat baik. Banyak anak dengan tuli kongenital yang mendapat intervensi awal dapat berkembang secara normal dalam bicara, bahasa, dan akademis, terutama dengan dukungan keluarga yang konsisten.

Kapan Harus ke Dokter?

Hubungi dokter spesialis THT-KL jika:

  • Bayi Anda tidak merespons skrining pendengaran di rumah sakit bersalin atau klinik
  • Anda melihat tanda-tanda gangguan pendengaran seperti yang disebutkan di atas
  • Bayi lahir dengan faktor risiko seperti riwayat keluarga gangguan pendengaran atau infeksi prenatal
  • Perkembangan bicara anak tertinggal dibanding teman sebayanya

Jangan tunda pemeriksaan berdasarkan anggapan bahwa bayi “masih terlalu muda” atau “mungkin akan normal sendiri.” Periode emas perkembangan bahasa adalah 0–3 tahun, dan intervensi dalam jendela waktu ini memberikan hasil yang jauh lebih optimal.

FAQ

Apakah tuli kongenital selalu bersifat turun-temurun?
Tidak. Hanya sekitar 50% kasus yang bersifat genetik. Sisanya dapat disebabkan oleh infeksi prenatal, komplikasi kehamilan, atau kelainan perkembangan struktur telinga tanpa riwayat keluarga.

Bisakah tuli kongenital dideteksi sebelum bayi lahir?
Deteksi prenatal sangat terbatas. Kelainan struktur telinga dalam mungkin terlihat pada USG high-resolution, namun tidak semua kelainan pendengaran dapat terlihat sebelum lahir. Skrining bayi baru lahir tetap menjadi standar paling penting.

Apakah alat bantu dengar akan membuat anak bergantung dan malas belajar bicara?
Sebaliknya. Alat bantu dengar memberikan akses suara yang dibutuhkan anak untuk mendengar dan meniru bicara orang lain. Tanpa akses suara, anak justru akan kesulitan mengembangkan bicara alami. Alat bantu dengar adalah jembatan untuk pembelajaran bicara yang optimal.

Berapa usia ideal untuk memulai intervensi?
Semakin awal semakin baik—idealnya sebelum usia 3 bulan. Intervensi yang dimulai dalam bulan pertama kehidupan memberikan kesempatan terbaik bagi perkembangan bicara dan bahasa yang normal, mengikuti jalur perkembangan anak pendengaran normal.

Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan atau konsultasi medis langsung. Hasil dan penanganan tiap pasien berbeda.

Konsultasi Spesialis THT di Semarang

Punya keluhan serupa? dr. Yanuar Iman Santosa, Sp.THT-KL, Subsp. AI(K) berpraktik di RS Columbia Asia Semarang. Buat janji online via WhatsApp.

Buat Janji via WhatsApp

Lihat Juga

dr. Yanuar Iman Santosa, Sp.T.H.T.B.K.L.

Ditulis & ditinjau oleh dr. Yanuar Iman Santosa, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.A.I. (K), M.Si.Med.

Dokter Spesialis THT (Telinga Hidung Tenggorok) & Konsultan Alergi-Imunologi · Semarang

Praktik di RS Columbia Asia Semarang dan RS Nasional Diponegoro, menangani keluhan THT umum hingga kasus alergi kompleks yang memerlukan penanganan subspesialis Konsultan Alergi-Imunologi.

Lihat profil lengkap & jadwal praktik dokter THT Semarang →