Kondisi Saya Keluhan THT Cek Gejala Praktik Spesialis Tentang Artikel Booking Sekarang
Link disalin!
dr. Yanuar
Ditulis & Ditinjau oleh
dr. Yanuar Iman Santosa, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.A.I.(K), M.Si.Med
Spesialis THT & Subspesialis Alergi-Imunologi · RS Columbia Asia Semarang · Diperbarui: 30 September 2026

Seorang anak di kelas tiga sering disebut “keras kepala” karena tidak merespons panggilan orang tua dan sering meminta guru mengulangi instruksi. Orang tuanya baru menyadari—setelah memeriksakan ke dokter—bahwa anaknya mengalami gangguan pendengaran. Kisah seperti ini tidak jarang terjadi. Gangguan pendengaran pada anak usia sekolah sering tidak terdeteksi karena gejalanya tertutup oleh berbagai faktor, dan kesulitan belajar sering kali disalahartikan sebagai masalah perilaku.

Apa Itu Gangguan Pendengaran pada Anak Usia Sekolah?

Gangguan pendengaran pada anak usia sekolah adalah kondisi berkurangnya kemampuan telinga untuk menerima dan memproses suara, sehingga anak sulit mendengar pembicaraan atau bunyi sekitar. Gangguan ini bisa bersifat ringan hingga berat, dan bisa terjadi di satu telinga atau kedua telinga. Pada anak usia sekolah (6–12 tahun), gangguan pendengaran dapat berdampak besar terhadap pembelajaran, interaksi sosial, dan perkembangan bicara mereka yang sudah lebih kompleks.

Tanda dan Gejala

Orang tua dan guru perlu waspada terhadap tanda-tanda berikut:

  • Anak sering meminta orang lain mengulangi apa yang dikatakan atau merespons dengan lambat terhadap panggilan namanya.
  • Kesulitan mengikuti instruksi di kelas, terutama dalam lingkungan yang ramai.
  • Prestasi akademik menurun, khususnya dalam mata pelajaran yang mengandalkan pemahaman lisan.
  • Anak cenderung terisolasi dari teman-teman atau tidak aktif dalam percakapan kelompok.
  • Sering menonton televisi dengan volume tinggi atau kesulitan mendengarkan musik dengan volume normal.
  • Berbicara lebih keras dari biasanya atau artikulasi kurang jelas.
  • Kesulitan konsentrasi atau dianggap “tidak fokus” di sekolah.

Gejala-gejala ini sering kali tidak langsung dikenali orang tua sebagai tanda gangguan pendengaran. Sebaliknya, anak mungkin disebut “malas”, “tidak perhatian”, atau “nakal”, padahal sebenarnya mereka kesulitan mendengar.

Penyebab dan Faktor Risiko

Gangguan pendengaran pada anak usia sekolah dapat terjadi karena berbagai penyebab:

  • Infeksi telinga berulang: Otitis media (infeksi telinga tengah) yang sering atau tidak ditangani dengan baik bisa meninggalkan cairan di telinga tengah dan mengurangi daya dengar.
  • Paparan bising: Anak yang terpapar bising keras dalam jangka waktu lama—misalnya dari musik berkeras, pertunjukan musik, atau lingkungan yang sangat ramai—berisiko mengalami kerusakan telinga dalam.
  • Trauma atau cedera kepala: Kecelakaan atau jatuh yang mengenai area telinga dapat merusak struktur telinga.
  • Kelainan bawaan: Sebagian anak lahir dengan gangguan pendengaran yang tidak terdeteksi pada masa bayi dan baru tampak jelas saat usia sekolah.
  • Faktor genetik: Riwayat gangguan pendengaran dalam keluarga meningkatkan risiko.
  • Efek samping obat tertentu: Beberapa obat yang diminum anak (walaupun jarang) bisa memengaruhi pendengaran.

Kondisi iklim tropis dan udara lembab di Indonesia juga dapat meningkatkan risiko infeksi telinga berulang jika kebersihan telinga tidak terjaga dengan baik.

Cara Diagnosis

Diagnosis gangguan pendengaran pada anak usia sekolah memerlukan pemeriksaan pendengaran khusus yang disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak:

  • Audiometri nada murni: Anak diminta merespons terhadap bunyi dengan nada dan volume berbeda. Tes ini cocok untuk anak di atas 4–5 tahun yang dapat kooperatif.
  • Tes pengenalan kata (speech audiometry): Anak diminta mengulangi kata-kata yang didengar untuk menilai pemahaman lisan.
  • Timpanometri: Mengukur bagaimana gendang telinga dan telinga tengah merespons tekanan udara.
  • Tes BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry): Pemeriksaan yang lebih mendalam untuk mengukur respons saraf pendengaran.
  • Otoskopi: Pemeriksaan langsung ke dalam telinga untuk melihat apakah ada cairan, serumen (kotoran telinga), atau kelainan di gendang telinga.

Dokter juga akan menggali riwayat medis anak, termasuk infeksi telinga sebelumnya, paparan bising, atau ada tidaknya anggota keluarga dengan gangguan pendengaran.

Penanganan

Penanganan gangguan pendengaran pada anak tergantung dari penyebab dan tingkat keparahan:

  • Jika disebabkan infeksi atau cairan telinga tengah: Dokter dapat merekomendasikan pengamatan, terapi medis, atau prosedur khusus untuk mengeluarkan cairan dan memulihkan pendengaran.
  • Jika gangguan mengenai telinga dalam: Alat bantu dengar atau implan koklea dapat membantu anak mendengar lebih baik dan mendukung perkembangan bahasa mereka.
  • Terapi pendengaran dan bahasa: Terapi dengan ahli terapis wicara membantu anak belajar mengoptimalkan sisa pendengaran mereka dan mengembangkan keterampilan komunikasi.
  • Strategi di rumah dan sekolah: Orang tua dan guru dapat menerapkan teknik komunikasi yang lebih jelas, seperti berbicara lebih perlahan, menghadap anak langsung, dan mengurangi kebisingan latar belakang.

Semakin dini gangguan pendengaran dideteksi dan ditangani, semakin baik kesempatan anak untuk mengembangkan kemampuan bicara dan mencapai prestasi akademik yang optimal.

Komplikasi dan Prognosis

Jika gangguan pendengaran tidak ditangani, anak berisiko mengalami keterlambatan berbicara, kesulitan belajar akademik, dan masalah emosional atau sosial. Namun, dengan deteksi dini dan intervensi yang tepat, sebagian besar anak dapat berfungsi dengan baik di sekolah dan kehidupan sosial mereka. Prognosis bergantung pada jenis gangguan, seberapa dini dideteksi, dan dukungan yang didapatkan anak.

Kapan Harus ke Dokter?

Bawa anak ke dokter THT-KL (spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan) jika Anda melihat tanda-tanda gangguan pendengaran, seperti respons lambat terhadap suara, kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah, atau riwayat infeksi telinga berulang. Jangan tunda pemeriksaan, karena periode usia sekolah adalah waktu krusial untuk perkembangan bahasa dan akademik anak. Pencegahan juga penting, termasuk menjaga telinga dari infeksi dan paparan bising berlebihan.

FAQ

Apakah gangguan pendengaran pada anak bisa sembuh?
Tergantung penyebabnya. Jika disebabkan infeksi atau cairan telinga tengah, dapat pulih dengan penanganan yang tepat. Namun, jika terjadi kerusakan sel-sel telinga dalam (sensorineural), gangguan biasanya bersifat permanen, namun dapat dikelola dengan alat bantu dengar atau intervensi lain untuk meningkatkan kualitas hidup anak.

Apakah anak yang mengenakan alat bantu dengar bisa belajar normal seperti anak lain?
Ya, banyak anak dengan alat bantu dengar yang dapat mengikuti pendidikan reguler dengan dukungan yang sesuai. Semakin dini alat digunakan dan mendapat dukungan terapi yang tepat, semakin baik hasil belajar anak.

Bagaimana membedakan anak yang “tidak mendengar” dengan anak yang “tidak mendengarkan”?
Anak yang tidak mendengarkan biasanya merespons ketika dipanggil dengan nada serius atau mendapat perhatian langsung. Sebaliknya, anak dengan gangguan pendengaran akan tetap tidak merespons meskipun dipanggil keras-keras berulang kali. Pemeriksaan pendengaran formal dapat memastikan perbedaan ini.

Apakah paparan bising seperti musik berkeras bisa menyebabkan gangguan pendengaran pada anak?
Ya, paparan bising keras dalam jangka waktu lama dapat merusak sel-sel telinga dalam dan menyebabkan gangguan pendengaran. Penting untuk membatasi paparan musik berkeras dan mengajarkan anak tentang penggunaan earphone atau headphone dengan volume yang aman.

Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan atau konsultasi medis langsung. Hasil dan penanganan tiap pasien berbeda.

Konsultasi Spesialis THT di Semarang

Punya keluhan serupa? dr. Yanuar Iman Santosa, Sp.THT-KL, Subsp. AI(K) berpraktik di RS Columbia Asia Semarang. Buat janji online via WhatsApp.

Buat Janji via WhatsApp

Lihat Juga

dr. Yanuar Iman Santosa, Sp.T.H.T.B.K.L.

Ditulis & ditinjau oleh dr. Yanuar Iman Santosa, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.A.I. (K), M.Si.Med.

Dokter Spesialis THT (Telinga Hidung Tenggorok) & Konsultan Alergi-Imunologi · Semarang

Praktik di RS Columbia Asia Semarang dan RS Nasional Diponegoro, menangani keluhan THT umum hingga kasus alergi kompleks yang memerlukan penanganan subspesialis Konsultan Alergi-Imunologi.

Lihat profil lengkap & jadwal praktik dokter THT Semarang →